Jakarta – Klik Here — Literasi adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan setiap orang. Hal ini dapat menjadi jembatan ilmu dalam meraih rangkaian sumber belajar membaca, menulis dan berhitung sehingga menjadi sebuah karya yang baik. Aspek ini sangat identik dengan mewujudkan karya itu tidak mudah di satuan pendidikan. Sebagai bentuk pengembangan literasi itu dapat diterapkan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang bisa dijadikan sumber pembelajaran.
Menurut Diane Kern seorang ahli literasi, mengatakan bahwa literasi itu terdapat 7 prinsip pendidikan di antaranya literasi tersebut melibatkan:

1. Interprestasi
2. Kolaborasi
3. Konvensi
4. Pengetahuan kultural
5. Pemecahan masalah
6. Releksi dan refleksi diri
7. Penggunaan bahasa

Dari sebuah pendapat yang dikemukakan di atas adalah bahwa pentingnya pendidikan literasi bagi siswa adalah bagaimana membangun karakter yang bersifat holisitik dengan pemetaan prinsip-prinsip yang terhimpun dalam pola pemikiran siswa. Pemikiran seorang Kern ini menjadi salah satu bukti nyata adanya prinsip-prinsip yang dibangun sehingga menghasilkan pola yang berbeda dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa di bidang literasinya.

Permasalahan yang muncul di Era 4.0 adalah bagaimana peran teknologi dapat membantu perkembangan seluruh aspek kehidupan masyarakat bisa terwujud dengan baik. Hal ini terungkap bahwa seberapa pentingnya pendidikan 4.0 harus segera dilaksanakan dan dampak jika tidak melaksanakan jadi bahan yang menarik untuk disimak. Terutama jika ada hubungannya dengan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki Indonesia, karena Era 4.0 memiliki hubungan erat dengan teknologi yang mengambil peranan dalam produksi.

Pembahasan topik tersebut kian memanas yakni tentang industri kini bergerak ke arah digital. Maka dari itu, untuk menyiapkan SDM berkualitas dan berdaya saing global, anak-anak Indonesia harus menguasai teknologi selama masa pendidikan. Hal ini juga harus diimbangi dengan perkembangan teknologi digital di Indonesia yang saat ini masih dinilai terlambat dari negara lain.

Dinamika pendidikan di Era 4.0 ini juga memiliki pengimbasan yang luar biasa dalam identitas diri siswa dalam menerapkan pendidikan pada karakter dan pemanfaatan teknologi yang selalu mengalami perubahan. Hal ini menjadi pekerjaan besar bagi para stake holder pendidikan, para pejabat pendidikan, lembaga-lembaga kementerian pendidikan sampai tingkat satuan-satuan pendidikan di berbagai daerah seluruh Indonesia. Hal ini juga diungkapkan oleh Dadang Hermawan, MEd yang saat ini masih menjadi Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu di Negeri Sabah, Malaysia. Sekolah Indonesia ini tengah berada di perbatasan antar kedua negara dan biasa disebut dengan Sekolah Perbatasan.

Ddang menyampaikan pentingnya Pendidikan Literasi adalah sebagai berikut:

1. Sebagai salah satu keterampilan yang dapat menunjang proses pembelajaran menjadi lebih cepat dan mudah
2. Mempermudah akses materi pendidikan yang sama meskipun berada di luar negeri
3. Mempermudah interaksi dan proses belajar mengajar antara guru dan siswa yang terkendala jarak
4. Efisiensi waktu dan tenaga dalam proses pembelajaran
5. Sumber belajar yang cepat dan mudah di tengah keterbatasan siswa yang berada di perbatasan dalam mendapatkan informasi dari lingkungan

Dari perspektif Dadang, dapat disimpulkan bahwa pendidikan literasi yang efektif dengan ditunjang teknologi yang memadai dapat mengurangi pekerjaan besar Pemerintah Indonesia dalam memberikan layanan pendidikan di perbatasan Malaysia – Indonesia tersebut. Dadang telah memimpin sekolah-sekolah Indonesia yang tersebar di berbagai ladang kelapa sawit itu telah dihuni oleh ribuan anak BMI (Buruh Migran Indonesia) selama hampir sepuluh tahun. Hal ini membuat Dadang bersama para guru Indonesia yang ditugaskan itu semangat bekerja keras dan gigih mendidik anak-anak BMI.

Alhamdlillah hal itu telah berhasil menunjukkan hasil yang baik. Hasil yang dicapai ini bisa direpresentasikan sebagai bukti nyata bahwa Era 4.0 dapat menunjang perkembangan pendidikan para anak BMI meraih kesuksesan sebagai mahasiswa-mahasiswa berprestasi di berbagai kampus ternama di Indonesia. Selain itu, banyak anak BMI tersebut dapat bersaing secara global dengan para kompetitor dari negara lain.

Salah satu anak BMI tersebut adalah Asdar Muhammad. Dia adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran Bandung yang berhasil menjadi delegasi Indonesia di even Asia Youth International Model United Nations di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2017 lalu. Selain itu, pada tahun 2022 Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) mampu mengantarkan dua siswanya lolos Beasiswa Indonesia Maju untuk Program Persiapan Beasiswa S1 Luar Negeri Angkatan 3 yakni Defni Mandifin dan Dhestiansia Narendra R. Mereka berdua menjadi calon mahasiswa di University of Queensland Australia dan University of California Barkeley USA (United States of America). Pencapaian ini terwujud karena adanya peran besar pendidikan literasi yang merupakan sebagai media ilmu pengetahuan yang berkolaborasi dengan teknologi dalam meningkatkan kemampuannya terus menerus demi meraih prestasi yang gemilang.

Adanya prestasi dan karya yang membanggakan ini juga tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan pada satuan pendidikan tersebut. Dadang mengaku bahwa tidak sedikit anak-anak BMI juga menemukan kendala besar dalam menghadapi Era 4.0. Hal ini disebutkan bahwa beliau menyadari adanya kekurangan di sekolah perbatasan tersebut dan beberapa faktor yang menjadi kendalanya adalah :
1. Keterbatasan sarana dan prasarana di sekolah
2. Teknis (sinyal, kuota, data, perangkat error)
3. SDM yang kurang menguasai IT/aplikasi pembelajaran.

Tentunya temuan-temuan seperti ini harus segera diselesaikan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi. Hal ini tercermin pada keadaan geografis sekolah-sekolah Indonesia di Negeri Sabah tersebut adalah bukit pegunungan yang tinggi dan pemancar sinyal terkadang tidak dapat ditangkap dengan mudah melalui media alat komunikasi. Mereka memerlukan waktu untuk menempuh perjalanan dan mencari tempat yang mampu menangkap sinyal internet maupun perangkat alat yang mendukung.

Selain itu proses pembangunan karakter siswa juga harus patut dipikirkan secara matang dan cara mereka menjangkaunya karena aspek geografis lokasi sekolah Indonesia yang berbeda kondisinya. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia menghadirkan solusi yang efektif dengan mendatangkan guru-guru Indonesia dalam membantu keterbatasan anak-anak BMI untuk mengakses pembelajaran yang secara umum menggunakan IT atau aplikasi pembelajaran yang menunjang.

Sehingga hal itu memaksa guru Indonesia bekerja keras dalam memberdayakan sarana yang ada dengan kapasitas pengetahuannya untuk memberikan pembekalan pemahaman ilmu yang cukup melalui sumber-sumber belajar yang disesuaikan dengan kondisi yang ada di sekolah-sekolah Indonesia tersebut. Dadang juga mengatakan bahwa adanya kelemahan-kelemahan yang masih terselesaikan ini tentunya menjadi salah satu tanggung jawabnya sebagai kepala sekolah dalam menata manajemennya bersama seluruh guru Indonesia di perbatasan.

Oleh karena itu pentingnya peran pendidikan literasi dalam mengatasi urgensi di Era 4.0 ini sangat dibutuhkan dan berlangsung secara kontinuitas serta menyesuaikan dengan masanya. Karena dinamika teknologi akan terus berkembang dan mengikuti kebutuhan manusia secara berkelanjutan. Mendirikan perpustakaan mini di sekolah-sekolah Indonesia di ladang, mengenalkan jelajah film pendidikan anak Indonesia, dan mengajarkan penggunaan media teknologi laptop dalam memanfaatkan literasi digital di dunia maya. Hal itu yang bisa dilakukan agar urgensi pendidikan literasi dapat tereduksi secara perlahan-lahan di daerah perbatasan itu.

Potret literasi di daerah perbatasan ini ternyata memiliki beberapa kesamaan dalam membangun budaya positif dalam aspek literasi di Indonesia, salah satunya di SMP Islam Terpadu Darul Fikri Kabupaten Sidoarjo. Sekolah ini terletak di kawasan cukup padat penduduk, dekat dengan pusat pemerintahan dan kegiatan UMKM masyarakat juga terjadi di sekitar sekolah tersebut.

SMP Islam Terpadu Darul Fikri ini bisa disebut sebagai sekolah urban karena adanya berbagai fasilitas yang mendukung pembelajaran yang efektif bagi para siswa. Basuki Rakhmad, MPd selaku kepala sekolah berbasis pesantren tersebut menyampaikan bahwa dalam dunia pendidikan literasi di Era 4.0 itu salah satu bentuk kehidupan. Oleh karena itu pendidikan melalui pengalaman merupakan nilai yang sangat penting. Pendidikan secara substansi mengajarkan tentang cara menghadapi dan memaknai kehidupan. Dalam konteks ini idealnya sekolah memiliki konsep yang jelas dan utuh bagaimana seorang anak menyiapkan masa depannya.

Dalam menyampaikan perspektifnya, Basuki memiliki sebuah tujuan dalam membangun visi dan misi sekolah harus memiliki pola manajemen yang tersistem. Pola ini menitikberatkan pendidikan karakter siswa terutama pada bidang literasi. Di SMP Islam Terpadu Darul Fikri Sidoarjo, mayoritas para siswa yang biasa disebut dengan kata “santri” ini memiliki kelemahan maupun kelebihannya dalam proses pembelajarannya.

Kelebihannya, sekolah pesantren tersebut menerapkan pembelajaran berbasis projek (PJBL), dan program dua bahasa (bilingual) di mana sebagai upaya mengikis urgensi faktor literasi di sekolah. Sedangkan pada aspek kelemahannya, sekolah tersebut cukup sulit bagi santrinya untuk mengakses penggunaan teknologi laptop atau handphone selama kegiatan di sekolah sehingga dapat menghambat pendidikan literasi Era 4.0. Tentunya hal ini menjadi faktor urgensi literasi yang harus diselesaikan secara bertahap. Kebijakan dapat dikeluarkan oleh sekolah dengan syarat penggunaan laptop untuk belajar di jam-jam pelajaran bersama guru dan jam tertentu dibawah pengawasan pesantren. Di bidang literasi, SMP DAFI telah meraih beberapa prestasi yang diraih oleh para santrinya, di antaranya Peserta Terbaik II Anugerah Literasi Kabupaten Sidoarjo 2021, TOP 100 Cerpen Terbaik Nasional GSMB 2021, dan TOP 100 Cerpen Terbaik Kabupaten FLS 2022. Dari pencapaian yang diraih oleh para santri ini dapat diinterpretasikan bahwa dukungan kepada santri dapat mengoptimalkan penggunaan laptop untuk mengeksplorasi materi pembelajaran maupun sumber belajar lainnya dengan tujuan meningkatkan kemampuan literasinya sehingga mampu meraih prestasi-prestasi selanjutnya.

Basuki menyebutkan bahwa urgensi pendidikan di Era 4.0 sangat mendesak terutama aspek literasi. Literasi kehidupan ini sangat luas yang akan dijadikan siswa sebagai pengalaman belajar. Di kelas merupakan salah satu pusat aktivitas bagi anak untuk untuk mendapatkan pengalaman belajar yang koheren dengan kebutuhannya saat ini dan yang akan datang. Wajah sekolah harus selalu membuka diri dalam mengikuti perubahan yang mengikuti unsur-unsur budaya positif dimana proses membangun manajemen sekolah juga membutuhkan waktu yang cukup panjang sehingga membentuk sebuah sistem yang terorganisir. Selain itu, sekolah harus memiliki program pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna sehingga dapat menciptakan kelas yang aktif, kreatif serta inovatif dalam berkarya. Proses ini tentunya tidak bisa dilakukan seorang diri kepala sekolah melainkan membutuhkan tim guru yang solid untuk membangunnya.

Perspektif tentang pendidikan literasi di Era 4.0., Basuki memiliki kesamaan dengan perspektif yang disampaikan Dadang Hermawan, MEd yaitu:

“Mewujudkan proses belajar mudah melalui teknologi itu dapat menciptakan interaksi belajar antara siswa dan guru dengan mengeksplorasi pengetahuan dan keterampilan sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna melalui karakter kemandirian siswa”.

Pernyataan di atas dapat memberikan gambaran yang nyata yakni pentingnya pembelajaran yang mudah dan menyenangkan bagi siswa sehingga pengetahuan dan keterampilan bisa tumbuh dan berkembang dan dapat menghasilkan suasana belajar yang saling menunjang sehingga pengembangan literasi dapat dibangun dengan sistem pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.

Proses pembelajaran seperti itu membutuhkan adanya peran penuh seorang guru dalam mengelola semangat belajar siswa. Dalam manajemen sekolah, adanya peran guru itu selalu menemani, merawat, menumbuhkan, dan membangkitkan karakter siswa. Hal ini akan tetap menjadi ujung tombak pembelajaran dan mengantarkan siswa meraih kesuksesan di masa depan. Peran-peran guru tersebut akan menuntun siswa untuk tidak menjadi beban di masyarakat nantinya. Guru menuntun untuk menguatkan dan menumbuhkan potensi yang sudah dimiliki siswa, belajar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya sesuai dengan kondisi pemahaman pengetahuannya, bakat, dan profilnya, belajar sesuai dengan kodrat alam yang membuat siswa merasa yakin bahwa apa yang dialaminya sesuai dengan kehidupan nyatanya, dan kodrat zaman yang membuat siswa merasa harus belajar. Dengan demikian siswa dapat membangun karakter belajar secara mandiri.

Melalui perspektif yang terjadi di dua sisi wajah sekolah yang berbeda secara geografis, maka peran pendidikan literasi dalam tubuh manajemen sekolah ini sangat dibutuhkan. Karena hal tersebut dapat menumbuhkan jiwa semangat belajar dan bisa menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa. Dengan begitu manajemen sekolah dapat berjalan dengan baik dan bisa mengatasi masalah urgensi pendidikan literasi Era 4.0 yang sangat kolaboratif dengan teknologi sehingga para siswa dapat menikmati proses pembelajaran yang sesuai bakat dan minat serta sesuai pilar-pilar dimensi profil pelajar pancasila.